Teoriasam basa Arrhenius didasarkan pada pembentukan ion dan pada larutan berair (aqueous solution). F 0 D 8 Asam adalah spesies yang menghasilkan ion H+ atau H3O+ Berikutadalah kumpulan 100 nama nama senyawa kimia lengkap dengan rumus kimianya: 1. Nama Nama Senyawa Kimia Lengkap dengan Rumus Kimianya No. 1-50 No. Nama Nama Senyawa Kimia Rumus Kimia 1 Air H2O 2 Glukosa C6H12O6 3 Metana CH4 4 Amonia NH3 5 Benzena C6H6 6 Silika SiO2 7 Etilena C2H2 8 Butana C4H10 9 Anilina C6H5NH2 10 Karbon Bagian1 – Identitas Bahan dan Perusahaan 1.1 Mengidentifikasi Produk Nama Produk : AQUADEST Sinonim : Dihidrogen Oksida, Deionized water, Aqua, Aquadestilata No. CAS : 7732-18-5 Kode HS : 2853 90 10 Kode Produk : A-1078 Merek : SMART-LAB 1.2 Penggunaan yang relevan dari bahan atau campuran dan penggunaan yang disarankan terhadap Asamatau pun basa yang mengalami disosiasi sempurna merupakan asam atau basa kuat, misalnya HCl, HNO3, NaOH, 9 Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi lebih besar. SiO2 dan H2SO4 pekat ditambahkan pada sedikit zat padat yang akan membentuk gelembung-gelembung secara HNO36M 28. Am.molibdat 2M 29. NaOH 1% 30. Metilalkohol 31. CaCl2 1M 32. KIO3 1M 33. Amilum 34. Air brom 35. NH4OH 6M 36. rasa) dan pemanasan. Analisa basah meliputi pemeriksaan kelarutan dalam air, reaksi pengendapan, filtrasi atau penyaringan, dan pencucian (Al2O3.SiO2 atau tepung sellulosa) di permukaan plat kaca. 139. Kromatografi 4 Menghitung kadar SiO2 dalam sampel alumina INA – B Tabel 4.3 Perhitungan Kadar SiO2 Dalam Bahan Baku Alumina . N Dalam penentuan kadar SiO2 ditambahkan ammonium molibdat sebagai zat pewarna dan pH larutan harus dijaga sekitar 0,9 – 1,1 karena pada pH tersebut merupakan pH optimum untuk terbentuknya kompleks silikon molibdat. Badireaksikan dengana NaOH(q). Aluminium oksida akan larut membentuk NaCl(OH)4. senyawa, terutama sebagai fosfat. Senyawa Ca3(PO4)2 di pisahkan dari batuan fosfat kemudian di panaskan dengan pasir (SiO2) dan kokas (C). Uap fosforus yang terbentuk ditampung dalam air. 2Ca3(PO4)2 (s) + SiO2 (s) + 10 C (s) → 6CaSiO3 (s) + 10 CO (g) + P4 (g LarutanCH 3 COOH 8ml 0,1M direaksikan dengan 2ml NaOH 0,1M, tentukan pH larutan. Jawab : pH campuran 0,005M NH 4 OH dan 0,02M H 2 SO 4 dalam 900ml air adalah bQjG. Quando se fala em sais, imaginamos aqueles usados em banhos ou Cloreto de SĂłdio NaCl, nosso famoso sal de cozinha. Apresentamos aqui uma variedade de sais e suas classificaçÔes de acordo com a natureza de seus Ă­ons. Definição de sal toda substĂąncia que, em solução aquosa, sofre dissociação liberando um cĂĄtion diferente de H+ e um Ăąnion diferente de OH-. Os sais se classificam em ĂĄcidos, bĂĄsicos, neutros, mistos ou hidratados Sal bĂĄsico hidrĂłxi-sal apresenta dois Ăąnions e um cĂĄtion. Exemplo AlOH2Cl2 - cloreto dibĂĄsico de alumĂ­nio Dissociação eletrolĂ­tica Al2+ OH2- Cl2- Sal ĂĄcido hidrogeno-sal Ă© formado por dois cĂĄtions e somente um Ăąnion. Exemplo NaHCO3 - bicarbonato de sĂłdio Os Ă­ons responsĂĄveis pela formação deste sal podem ser visualizados pela sua dissociação eletrolĂ­tica Na+H+ CO32- Sal neutro como o prĂłprio nome jĂĄ diz, este sal Ă© produto da neutralização total de um ĂĄcido ou de uma base. Se for neutralizado indica que nĂŁo existem Ă­ons H+ e OH-. Sendo assim, sĂŁo identificados pela ausĂȘncia na fĂłrmula dos Ă­ons H+ e OH-. ExemploNĂŁo pare agora... Tem mais depois da publicidade ; Carbonato de potĂĄssio K2CO3 e Cloreto de SĂłdio NaCl. Sal misto composto por dois cĂĄtions ou dois Ăąnions diferentes. Exemplo NaLiSO4 - sulfato de sĂłdio e lĂ­tio Dissociação eletrolĂ­tica Na+ Li+ SO42- Repare que o sal misto foi formado por dois cĂĄtions diferentes Na+ Li+. Lembrando que os Ă­ons participantes da reação precisam ser diferentes de H+ e de OH-. Sal hidratado aquele que contĂ©m ĂĄgua na composição. As molĂ©culas de H2O ficam localizadas no retĂ­culo cristalino da estrutura salina. Exemplo CaSO4 . 2 H2O – sulfato de cĂĄlcio di-hidratado. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Natrium hidroksida Nama Nama IUPAC Natrium hidroksida[three] Nama lain Soda kaustik Lindi[1] [2] Ascarite Kaustik putih Natrium hidrat[iii] Penanda Nomor CAS 1310-73-two Y Model 3D JSmol Gambar interaktif 3DMet {{{3DMet}}} ChEBI CHEBI32145 Y ChemSpider 14114 Y Nomor EC Referensi Gmelin 68430 KEGG D01169 Y MeSH Sodium+Hydroxide PubChem CID 14798 Nomor RTECS {{{value}}} UNII 55X04QC32I Y Nomor UN 1824, 1823 CompTox Dashboard EPA DTXSID0029634 InChI InChI=1S/ Y Key HEMHJVSKTPXQMS-UHFFFAOYSA-M Y InChI=one/ Central HEMHJVSKTPXQMS-REWHXWOFAM SMILES [OH-].[Na+] Sifat Rumus kimia NaOH Massa molar 39,9971 k mol−1 Penampilan Putih, licin, kristal buram Bau tidak berbau Densitas 2,13 g/cm3 [4] Titik lebur 323 °C 613 °F; 596 K[four] Titik didih °C °F; G[iv] Kelarutan dalam air 418 g/L 0 °C 1000 chiliad/L 25 °C[iv] 3370 g/L 100 °C Kelarutan larut dalam gliserol tidak bereaksi dengan amonia tidak larut dalam eter larut perlahan dalam propilena glikol Kelarutan dalam metanol 238 g/Fifty Kelarutan dalam etanol NaClaq +H2ofifty}}} [19] OH − aq + H + aq ⟶ H 2 O l {\displaystyle {\ce {OH- aq + H+aq -> H2O fifty}}} [xix] Reaksi dengan oksida asam [sunting sunting sumber] Natrium hidroksida juga bereaksi dengan oksida asam, seperti sulfur dioksida. Reaksi semacam itu sering digunakan untuk “menggaruk” gas asam yang berbahaya seperti SOii dan H2Southward yang diproduksi dalam pembakaran batu bara dan karenanya mencegah pelepasannya ke atmosfer. Sebagai contoh,[xix] 2 NaOH + So 2 ⟶ Na 2 And then iii + H 2 O {\displaystyle {\ce {2NaOH + SO2 -> Na2SO3 + H2o}}} Reaksi dengan logam dan oksida [sunting sunting sumber] Kaca bereaksi perlahan dengan larutan natrium hidroksida encer pada suhu kamar untuk membentuk silikat yang larut. Karena itu, sambungan kaca dan kran gelas yang terpapar natrium hidroksida memiliki kecenderungan untuk “membeku”. Labu laboratorium dan reaktor kimia berlapis kaca dapat rusak apabila terpapar natrium hidroksida panas dalam jangka panjang. Natrium hidroksida tidak bereaksi besi pada suhu kamar, karena besi tidak memiliki sifat amfoter yaitu, ia hanya larut dalam asam, dan tidak dalam basa.[xix] Meski demikian, pada suhu tinggi seperti di atas 500 °C, besi dapat bereaksi secara endotermik dengan natrium hidroksida untuk membentuk besiThree oksida, logam natrium, dan gas hidrogen.[twenty] Hal ini disebabkan entalpi pembentukan besiThree oksida yang lebih rendah −824,2kJ/mol dibandingkan dengan natrium hidroksida -500kJ/mol, dengan demikian, reaksinya disukai secara termodinamika, meskipun sifat endotermiknya menunjukkan non-spontanitas. Perhatikan reaksi berikut antara natrium hidroksida cair dan serbuk besi four Fe + half-dozen NaOH ⟶ 2 Fe 2 O 3 + 6 Na + 3 H two {\displaystyle {\ce {4Fe + 6NaOH -> 2Fe2O3 + 6Na + 3H2}}} [xix] Pada tahun 1986, truk tangki aluminium di Inggris secara keliru digunakan untuk mengangkut 25% larutan natrium hidroksida, menyebabkan timbulnya tekanan tinggi pada isi serta kerusakan pada tangki tersebut. Tekanan tersebut disebabkan oleh gas hidrogen yang dihasilkan dari reaksi antara natrium hidroksida dan aluminium[21] two Al + 2 NaOH + 6 H 2 O ⟶ 2 NaAl OH 4 + 3 H 2 {\displaystyle {\ce {2Al + 2NaOH + 6H2O -> 2NaAlOH4 + 3H2}}} Saponifikasi [sunting sunting sumber] Natrium hidroksida dapat digunakan untuk hidrolisis ester yang digerakkan oleh basa seperti dalam saponifikasi, amida dan alkil halida.[16] Namun, kelarutan natrium hidroksida yang terbatas dalam pelarut organik menunjukkan bahwa kalium hidroksida KOH yang mudah larut dalam pelarut ini yang lebih disukai. Menyentuh larutan natrium hidroksida dengan tangan kosong, meski tidak disarankan, menghasilkan rasa licin. Hal ini terjadi karena minyak pada kulit seperti sebum diubah menjadi sabun.[18] Meskipun senyawa ini larut dalam propilena glikol, namun tidak memungkinkan untuk pelarut ini menggantikan air dalam saponifikasi karena adanya reaksi primer propilena glikol dengan lemak sebelum reaksi antara natrium hidroksida dan lemak.[18] Produksi [sunting sunting sumber] Natrium hidroksida diproduksi secara industri sebagai larutan dengan konsentrasi fifty% melalui proses kloralkali elektrolitik.[22] Gas klorin juga diproduksi dalam proses ini.[22] Natrium hidroksida padat diperoleh dari larutan ini dengan penguapan air. Natrium hidroksida padat paling sering dijual sebagai serpihan, pelet, dan balok tuang.[xv] Pada tahun 2004, produksi dunia senyawa natrium hidroksida diperkirakan mencapai 60 juta ton, sementara permintaan terhadap senyawa ini diperkirakan mencapai 51 juta ton.[15] Pada tahun 1998, full produksi natrium hidroksida dunia sekitar 45 juta ton. Amerika Utara dan Asia masing-masing berkontribusi 14 juta ton, sementara Eropa memproduksi sekitar 10 juta ton. Di Amerika Serikat, penghasil utama natrium hidroksida adalah Dow Chemical Visitor, dengan produksi tahunannya mencapai iii,seven juta ton dari lokasinya di Freeport [en], Texas, serta Plaquemine [en], Louisiana. Produsen utama lainnya di Amerika Serikat termasuk Oxychem [en], Westlake, Olin [en], Shintek serta Formosa. Semua perusahaan ini menggunakan proses kloralkali.[23] Secara historis, natrium hidroksida diproduksi dengan mereaksikan natrium karbonat dengan kalsium hidroksida dalam suatu reaksi metatesis. Natrium hidroksida dapat larut sedangkan kalsium karbonat tidak. Proses ini disebut kaustisasi.[24] Ca OH 2 aq + Na two CO 3 s ⟶ CaCO 3 ↓ + ii NaOH aq {\displaystyle {\ce {CaOH2aq + Na2CO3s -> CaCO3 five + 2 NaOHaq}}} [25] Natrium hidroksida juga diproduksi dengan menggabungkan logam natrium murni dengan air. Produk sampingnya adalah gas hidrogen dan panas, yang sering kali juga menghasilkan nyala api.[26] 2 Na + two H ii O ⟶ two NaOH + H two {\displaystyle {\ce {2Na + 2H2O ->2NaOH + H2}}} [26] Kegunaan [sunting sunting sumber] Natrium hidroksida adalah basa kuat yang populer digunakan dalam industri. Natrium hidroksida digunakan dalam pembuatan garam natrium dan deterjen, pengaturan pH, dan sintesis organik. Secara massal, senyawa ini paling sering digunakan dalam larutan berairnya, karena senyawa ini dalam bentuk larutannya lebih murah dan lebih mudah ditangani.[27] Minyak mentah dengan kualitas buruk dapat diolah dengan natrium hidroksida untuk menghilangkan kotoran sulfur dalam proses yang dikenal sebagai pencucian kaustik. Natrium hidroksida bereaksi dengan asam lemah seperti hidrogen sulfida dan merkaptan untuk menghasilkan garam natrium non-volatil, yang dapat dihilangkan. Limbah yang terbentuk bersifat toksik dan sulit ditangani, dan prosesnya dilarang di banyak negara karena hal ini. Pada tahun 2006, Trafigura menggunakan proses ini dan membuang limbahnya di Pantai Gading.[28] [29] Keamanan [sunting sunting sumber] Luka bakar yang diakibatkan oleh paparan larutan natrium hidroksida 40%. Seperti asam dan alkali korosif lainnya, setetes larutan natrium hidroksida dapat dengan mudah menguraikan protein dan lipid pada jaringan hidup melalui hidrolisis amida dan ester, yang menyebabkan luka bakar dan dapat menyebabkan kebutaan permanen setelah kontak dengan mata.[i] [2] Alkali padat juga dapat mengekspresikan sifat korosifnya jika ada air, seperti uap air. Karenanya, peralatan pelindung, seperti sarung tangan karet, pakaian keselamatan dan pelindung mata, harus selalu digunakan saat menangani bahan kimia ini atau larutannya. Tindakan pertolongan pertama standar untuk alkali yang tumpah di kulit adalah, seperti pada senyawa korosif lainnya, dialiri dengan air dalam jumlah besar. Pembilasan dilanjutkan setidaknya selama sepuluh hingga lima belas menit.[fourteen] Selain itu, pelarutan natrium hidroksida sangat eksotermik, dan kalor yang dihasilkan dapat menyebabkan panas terbakar atau menyulut bahan yang mudah terbakar. Senyawa ini juga menghasilkan panas saat bereaksi dengan asam.[nineteen] Natrium hidroksida juga bersifat korosif ringan terhadap kaca, yang dapat menyebabkan kerusakan pada kaca tersebut.[xxx] Natrium hidroksida bersifat korosif terhadap beberapa logam, seperti aluminium yang bereaksi dengan alkali menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar pada paparannya[31] 2 Al + 6 NaOH ⟶ 3 H ii + 2 Na 3 AlO 3 {\displaystyle {\ce {2 Al + six NaOH -> three H2 + 2 Na3AlO3}}} 2 Al + 2 NaOH + 2 H 2 O ⟶ 3 H two + ii NaAlO two {\displaystyle {\ce {2 Al + two NaOH + two Water -> 3 H2 + 2 NaAlO2}}} 2 Al + 2 NaOH + 6 H 2 O ⟶ three H 2 + 2 NaAl OH 4 {\displaystyle {\ce {2 Al + ii NaOH + 6 H2o -> iii H2 + 2 NaAlOH4}}} Penyimpanan [sunting sunting sumber] Penyimpanan yang cermat diperlukan saat menangani natrium hidroksida untuk digunakan, terutama ketika senyawa ini dalam jumlah yang besar. Sangat direkomendasikan untuk mengikuti pedoman penyimpanan yang benar dan menjaga keselamatan pekerja serta lingkungan mengingat bahaya bahan kimia ini yang mudah terbakar.[14] Natrium hidroksida sering disimpan dalam botol untuk penggunaan laboratorium skala kecil, dalam jerigen atau drum wadah book sedang untuk penanganan dan pengangkutan kargo, atau dalam tangki penyimpanan stasioner besar dengan volume hingga galon. Bahan umum yang kompatibel dengan natrium hidroksida dan sering digunakan untuk penyimpanan NaOH meliputi polietilena HDPE biasa digunakan atau XLPE yang kurang umum digunakan, baja karbon, polivinil klorida PVC, baja tahan karat, dan plastik yang diperkuat kaca serat FRP, dengan lapisan penahan.[xvi] Natrium hidroksida harus disimpan dalam wadah kedap udara untuk menjaga normalitasnya karena akan menyerap air dari atmosfer.[14] Lihat pula [sunting sunting sumber] Asam dan basa Referensi [sunting sunting sumber] ^ a b c “Textile Safety Datasheet” PDF. ^ a b c “Material Safety Datasheet two” PDF. Diarsipkan dari versi asli PDF tanggal 2012-08-03. Diakses tanggal 2012-05-20 . ^ a b “Sodium Hydroxide – Compound Summary”. Diakses tanggal 12 Juni 2012. ^ a b c d Haynes, hlm. ^ Haynes, hlm. ^ Jacobs, H.; Kockelkorn, J. and Tacke, Th. 1985. “Hydroxide des Natriums, Kaliums und Rubidiums EinkristallzĂŒchtung und röntgenographische Strukturbestimmung an der bei Raumtemperatur stabilen Modifikation”. Z. Anorg. Allg. Chem. 531 119–124. doi ^ Haynes, hlm. ^ a b c “NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards 0565”. National Institute for Occupational Safe and Wellness NIOSH. ^ Michael Chambers. “ChemIDplus – 1310-73-2 – HEMHJVSKTPXQMS-UHFFFAOYSA-M – Sodium hydroxide [NF] – Similar structures search, synonyms, formulas, resources links, and other chemical data.”. ^ “Sodium hydroxide”. Immediately Dangerous to Life and Health. National Establish for Occupational Prophylactic and Health NIOSH. ^ a b Ahmadi, Majid; Seyedina, Seyed 2019. “Investigation of NaOH Properties, Production and Sale Mark in the world”. Periodical of Multidisciplinary Applied science Science and Engineering science dalam bahasa Inggris. half-dozen 10 10809-10813. ISSN 2458-9403. ^ P. R. Siemens, William F. Giauque 1969 “Entropies of the hydrates of sodium hydroxide. II. Low-temperature rut capacities and heats of fusion of NaOH2H2O and NaOH Periodical of Concrete Chemistry, volume 73, effect 1, hlm. 149–157. DOI ^ Megyesa, TĂŒnde; BĂĄlint, Szabolcs; GrĂłsz, TamĂĄs; Radnai, TamĂĄs; BakĂł, Imre 2008. “The structure of aqueous sodium hydroxide solutions A combined solution x-ray diffraction and simulation study”. J. Chem. Phys. dalam bahasa Inggris. 128 044501. doi ^ a b c d “Examples of Mutual Laboratory Chemicals and their Risk Course”. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-01-ten. Diakses tanggal 2020-12-27 . ^ a b c Cetin Kurt, JĂŒrgen Bittner 2005, “Sodium Hydroxide”, Ullmann’s Encyclopedia of Industrial Chemistry, Weinheim Wiley-VCH, doi ^ a b c “Sodium Hydroxide Storage Tanks & Specifications”. Protank dalam bahasa Inggris. 2018-09-08. Diakses tanggal 2018-xi-21 . ^ “Exothermic vs. Endothermic Chemistry’s Give and Take”. Discovery Express. ^ a b c Cope, Rhian 2017. Dalefield, Rosalind, ed. “Chapter 16 – Site of First Contact Effects of Acids and Alkalis”. Veterinarian Toxicology for Australia and New Zealand dalam bahasa Inggris. Elsevier 279–287. doi ISBN 9780124202276. ^ a b c d east f g N. N. Greenwood, A. Earnshaw 1997 Chemistry of the Elements, 2nd ed., Butterworth-Heinemann, Oxford, UK. ISBN 9780585373393. ^ 焖恩, èźž 1992, 钟玠,é’Ÿè‚„æșŻæș[J] ^ Stamell, Jim 2001, EXCEL HSC Chemistry, Pascal Press, hlm. 199, ISBN 978-1-74125-299-6 ^ a b Fengmin Du, David G Warsinger, Tamanna I Urmi, Gregory P Thiel, Amit Kumar, John H Lienhard 2018. “Sodium hydroxide product from seawater desalination alkali process design and energy efficiency”. Environmental Science & Technology. 52 x 5949–5958. Bibcode2018EnST
 doi hdl . PMID 29669210. ^ Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology [ pranala nonaktif permanen ] , edisi ke-5, John Wiley & Sons. ^ Deming, Horace G. 1925. General Chemistry An Elementary Survey Emphasizing Industrial Applications of Central Principles edisi ke-2nd. New York John Wiley & Sons, Inc. hlm. 452. ^ Law, Jonathan LawJonathan; Rennie, Richard RennieRichard 2020-03-19, Law, Jonathan; Rennie, Richard, ed., “Solvay process”, A Dictionary of Chemical science dalam bahasa Inggris, Oxford University Press, doi ISBN 978-0-19-884122-seven, diakses tanggal 2020-10-08 ^ a b Markowitz, Meyer M. 1963. “Alkali metallic-water reactions”. J. Chem. Educ. dalam bahasa Inggris. 40 12 633. doi ^ “Document 2 – PDF. 2013. Diarsipkan dari versi asli PDF tanggal 2015-03-nineteen. Diakses tanggal 17 Juli 2014. ^ Sample, Ian 16 September 2009. “Trafigura case toxic slop left behind by caustic washing”. The Guardian . Diakses tanggal 2009-09-17 . ^ “Trafigura knew of waste matter dangers”. BBC Newsnight. 16 September 2009. Diakses tanggal 2009-09-17 . ^ Pubchem. “SODIUM HYDROXIDE NaOH – PubChem”. . Diakses tanggal 2016-09-04 . ^ “ application/pdf Object” PDF. 2008. Diarsipkan dari versi asli PDF tanggal September 14, 2012. Diakses tanggal January xv, 2013. Bibliografi [sunting sunting sumber] Haynes, William M., ed. 2011. CRC Handbook of Chemistry and Physics dalam bahasa Inggris edisi ke-92. CRC Press. ISBN 978-1439855119. Pranala luar [sunting sunting sumber] Inggris International Chemical Safety Menu 0360 Inggris Euro Chlor-How is chlorine made? Chlorine Online Inggris NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards Inggris CDC – Sodium Hydroxide – NIOSH Workplace Prophylactic and Health Topic Inggris Production by brine electrolysis Lembar data Inggris Sodium Hydroxide MSDS Inggris Certified Lye MSDS Inggris Hill Brothers MSDS Inggris Titration of acids with sodium hydroxide; freeware for data analysis, simulation of curves and pH adding Inggris Caustic soda production in continuous causticising plant by lime soda process Proses acid wash di electrochloronation merupakan proses pembersihan kerak menggunakan pelarut asam. Asam Chlorida HCl adalah pelarut asam yang paling umum digunakan untuk melarutkan kerak CaCO3. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum HNO3 sebagai pelarut alternatif dengan mengkaji efektifitasnya menggunakan HCl sebagai pembanding. Sampel kerak diambil dari plate electrolyzer sebanyak 5 gram. Larutan HNO3 dan HCl diencerkan dalam beberapa variabel konsentrasi, 2%; 3%; 4%; 5%; dan 6%. Sampel CaCO3 dilarutkan dengan HNO3 dan HCl kemudian dihitung jumlah kerak yang terlarut. Banyaknya zat terlarut berbeda sesuai dengan konsentrasi penelitian ini menunjukkan HCl dengan konsentrasi 3% tingkat kemolaran 0,83 M mampu melarutkan sebanyak 76,07% dari total sample kerak dan HNO3 dengan konsentrasi 5% tingkat kemolaran 0,81 M juga mampu melarutkan sebanyak 76,04% dari total sampel kerak CaCO3. Sehingga HNO3 dianggap mampu menjadi pelarut alteratif. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Journal Of Chemical Process Engineering Vol 03 No. 02, November-2018 ISSN = 2655-2957 17 EFEKTIVITAS ASAM NITRAT HNO3 SEBAGAI PELARUT ALTERNATIF PADA PROSES ACID WASH TERHADAP PLATE ELECTROLYZER DI PT KALTIM NITRATE INDONESIA Mimin Septiani1*, Kurniawan Santoso1 , Rafdi Abdul Majid2 1Jurusan Teknik Kimia, Sekolah Tinggi Teknologi Industri Bontang, Bontang, Kalimantan Timur-Indonesia 75311 2Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Tekologi Industri, Universitas Muslim Indonesia Makassar, Indonesia 90231 *email mhimns INTISARI Proses acid wash di electrochloronation merupakan proses pembersihan kerak menggunakan pelarut asam. Asam Chlorida HCl adalah pelarut asam yang paling umum digunakan untuk melarutkan kerak CaCO3. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum HNO3 sebagai pelarut alternatif dengan mengkaji efektifitasnya menggunakan HCl sebagai pembanding. Sampel kerak diambil dari plate electrolyzer sebanyak 5 gram. Larutan HNO3 dan HCl diencerkan dalam beberapa variabel konsentrasi, 2%; 3%; 4%; 5%; dan 6%. Sampel CaCO3 dilarutkan dengan HNO3 dan HCl kemudian dihitung jumlah kerak yang terlarut. Banyaknya zat terlarut berbeda sesuai dengan konsentrasi penelitian ini menunjukkan HCl dengan konsentrasi 3% tingkat kemolaran 0,83 M mampu melarutkan sebanyak 76,07% dari total sample kerak dan HNO3 dengan konsentrasi 5% tingkat kemolaran 0,81 M juga mampu melarutkan sebanyak 76,04% dari total sampel kerak CaCO3. Sehingga HNO3 dianggap mampu menjadi pelarut alteratif. Kata Kunci Kerak CaCO3 ; Acid ; wash ABSTRACT Acid wash process in electrochloronation is a removing scale process by using acid solvent. Hydrochloride acid HCl is the most common acid solvent used in this process. The purpose of this research is to determine the optimum concentration of HNO3 as an alternative solvent, by studying of the evectiveness using HCl as a comparison. 5 gram of CaCO3 scale is taken from plate electrolyzer. HNO3 and HCl are diluted into several concentration variables, 2%, 3%, 4%, 5%, and 6%. CaCO3 scale are dissolved with HNO3 and HCl then the number of dissolved scale is calculated. The concentration of solvent affects the amount of dissolved substances. This result showed 3% HCl with molarity 0,83 M is capable of dissolving as much as 76,07% of CaCO3 scale and 5% HNO3 with molarity 0,81 M is also capable of dissolving as much as 76,04 % of CaCO3 scale. So HNO3 can be the alternative solution. Keywords CaCO3 Scale ; Acid ; Wash PENDAHULUAN Kerak merupakan salah satu masalah yang cukup sering timbul pada peralatan industri. Endapan kerak yang terdiri dari mineral menjadi kurang larut seiring meningkatnya suhu, biasanya membentuk lapisan yang sulit dihilangkan sehingga mengurangi kapasitas suatu aliranKozic & Lipus, 2002. Pembentukan kerak biasanya disebabkan oleh adanya unsur-unsur anorganik pembentuk kerak seperti logam Ca2+ dalam jumlah yang melebihi kelarutannya pada keadaan kesetimbangan. Mineral yang paling umum ditemui CaCO3 dan CaSO4 Weijnen, Marchee, & Van Rosmalen, 1983. Tiga prinsip mekanisme pembentukan kerak Badr & Yassin, 2007 1 campuran dua air garam yang tidak sesuai umumnya air formasi mengandung banyak kation seperti Ca2+ , Ba2+ , Mg2+, Sr2+ bercampur dengan SO42- yang banyak terdapat dalam air laut, menghasilkan kerak sulfat seperti CaSO4 Ca2+ + SO42 CaSO4 Journal Of Chemical Process Engineering Vol 03 No. 02, November-2018 ISSN = 2655-2957 18 2 Penurunan tekanan dan temperature air garam, yang akan menurunkan kelarutan garam umumnya mineral yang paling banyak mengendap adalah kerak karbonat seperti CaCO3 3 Penguapan air garam, menghasilkan peningkatan konsentrasi garam melebihi batas kelarutan dan membentuk endapan garam. CaCO3 merupakan endapan putih yang sedikit larut dalam air. Kalsit dan Aragonit adalah 2 bentuk mineral dengan dengan komposisi kimia yang sama yaitu CaCO3Suharso & Buhani, 2015. Gambar 1. Struktur atom kalsit dan Aragonit serta gambaran skema Unit CO32- Proses acid wash merupakan proses pembersihan kerak menggunakan larutan asam kerap diterapkan pada peralatan industri, misalnya pada alat electrolyzer. Pada proses pembersihan kimiawi membran desalinasi, Asam Sitrat HS pada pH 4 mampu membersihkan dengan baik kerak CaCO3, Besi Oksida, Mangan Oksida, serta senyawa tripolifosfatAlimah, Aryanto, & Dewita, 2014. Pada proses pickling, asam anorganik seperti HCL dan H2SO4 dengan konsentrasi 2,4 M – 3,6 M digunakan untuk membersihkan kerak pada permukaan baja lembaran. Diponegoro, Iwan, Ahmad, & Bindar, 2014. Jika ditinjau dari urutan keefiktivan dalam melarutkan kristal kerak HCL > HNO3 > H2C2O4 > H2SO4, namun urutan bahan asam yang dapat menyebabkan korosi pada pipa adalah HCL > H3NSO3>HNO3. HCl sangat efisien dalam melarutkan kerak, namun dari data eksperimen pada korosi, HCl juga dapat menyebabkan korosi dan tidak dapat digunakan pada pipa yang terbuat dari stainless steel. Sehingga dari kasus tersebut HNO3 adalah yang paling sesuai dalam melarutkan kerak, paling lambat dalam menghasilkan korosi dan dapat digunakan pada pipa yang berbahan stainless steel.Swastic & Suprotim, 2015 HNO3 adalah cairan tak berwarna, berat jenis gr/ml pada suhu 250C, membeku pada suhu -42 0C,membentuk kristal putih dan mendidih pada 121 0Cmarianne & fiil, 2009 . Dalam mengurangi ketergantungan penggunaan dan penyediaan HCl dalam proses acid wash, maka perlu dipikirkan larutan asam lain yang dapat digunakan sebagai alternatif sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan efektifitas penggunaan pelarut HNO3 dan pelarut HCl terhadap kerak CaCO3. Yang ingin diketahui adalah konsentrasi optimum HNO3 yang tepat digunakan pada plate electrolyzer untuk menghindari kerusakan. METODE PENELITIAN Bahan dan Alat Penelitian Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Scale CaCO3, denim water, HCl 28,03% dan HNO3 42,30% dan reagent SPADNS. Alat yang digunakan pada penelitian ini, erlenmeyer flask, stirrer, washing bottle, sample cell, vacum pump, Drying oven, sample bottle, whatman filter 125 mm, Spectrophotometer DR 5000. Journal Of Chemical Process Engineering Vol 03 No. 02, November-2018 ISSN = 2655-2957 19 Penelitian Pendahuluan Uji kualitas HNO3 dilakukan Uji kualitatif HNO3 dilakukan dengan analisis kandungan Flouride menggunakan metode SPADNS 8029. Preparasi sampel 10 ml HNO3 dan 10 ml air demin sebagai larutan blank. 2 ml reagent SPANDS dipipet ke dalam masing-masing larutan. Pengujian dilakukan menggunakan Spectrophotometer DR 5000. Diperoleh hasil HNO3 2,77mg/LF. Dilakukan uji pelarutan CaCO3 dan MgCO3 menggunakan larutan HCl 2%,3%,4%,5%,6%, lalu diamati waktu peluruhan kedua jenis sample berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Uji efektifitas HNO3 Pada pengujian ini digunakan HCl sebagai pembanding. HCl dan HNO3 dengan konsentrasi masing-masing 28,03% dan 42,30% diencerkan menjadi 2%,3%,4%,5%,6%. Dari konsentrasi tersebut dikonversi menjadi satuan Molaritas untuk mengetahui volume HCl dan HNO3 yang dibutuhkan dalam proses pengencerannya, sehingga konsentrasi HCl menjadi M; M; M; M ; M dan HNO3 menjadi M; M;0,65M;0,81M; Konversi dihitung menggunakan rumus M = 𝜌 ×1000 𝑔𝑟𝑀𝑟 M = Molaritas ρ = Spesific gravity gr = Berat larutan dalam satuan % Mr = Massa relatif Berat sampel CaCO3 ± gram ditimbang, kemudian dilarutkan pada masing-masing variabel konsentrasi pelarut. Pengadukan dilakukan selama 30 menit menggunakan strirrer pada kecepatan 350 dilakukan pemisahan endapan sisa CaCO3 dari pelarut menggunakan Filter dan vacum pump. Sampel sisa dikeringkan pada suhu 260oC selama 30 menit, sampel didinginkan selama 15 menit pada suhu 32oC,lalu ditimbang hingga memperoleh netto dengan rumus Total zat terlarut berat mula-mula – berat sisa Gambar 2. Tahapan proses penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil analisis perbandingan konsentrasi HNO3 dan HCl Perbandingan pelarut HNO3 dan HCl dikaji untuk mengetahui hasil konversi pelarut yang semula dalam satuan % menjadi Molar. Pada penelitian ini menggunakan HCl sebagai pembanding dengan variabel konsentrasi 2% ; 3%; 4%; 5% dan 6% dengan tingkat kemolaran yang berbeda setelah dilakukan konversi. Yang menjadi acuan adalah batas konsentrasi anjuran vendor adalah 3% atau 0,83 M. Sehingga dalam menetapkan konsentrasi HNO3 dilakukan pula konversi untuk menyamakan tingkat kemolaran HCl dan HNO3 dan diperoleh konsentrasi HNO3 5% atau 0,81 M. Journal Of Chemical Process Engineering Vol 03 No. 02, November-2018 ISSN = 2655-2957 20 3% 4% 5% 6% 3% 4% 5% 6%HClHNO3Gambar 3. Grafik perbandingan konsentrasi kemolaran HNO3 dan HCl 2. Hasil analisis perbandingan total CaCO3 terlarut dengan pelarut HNO3 dan HCl Gambar 4. Grafik perbandingan total CaCO3 terlarut % dari 2 pelarut berbeda Dari data yang disajikan di atas dapat dilihat bahwa konsentrasi mempengaruhi jumlah sampel yang dilarutkan. Semakin tinggi konsentrasi,maka semakin besar jumlah CaCO3 yang dapat larut. Pada konsentrasi HCL 2% atau 0,55 M dapat menghasilkan 75,72% total kerak CaCO3 terlarut, Konsentrasi 3% atau 0,83 M melarutkan 76,07 %, CaCO3 ; konsentrasi 4% atau 1,11 M melarutkan 78,82% CaCO3 ; konsentrasi 5% atau 1,39 M mampu melarutkan 79,78 % CaCO3 dan konsentrasi 6% atau 1,67 M dapat menghasilkan 82,45% CaCO3 terlarut. Untuk proses pelarutan menggunakan pelarut HNO3, dilakukan dengan jumlah sampel yang sama ketika menggunakan pelarut HCl. Hasil kelarutan yang diperoleh, pada konsentrasi HNO3 2% atau 0,32 M dapat menghasilkan 68,34 % total CaCO3 terlarut; Konsentrasi 3% atau 0,49 M dapat melarutkan 71,86 % CaCO3, konsentrasi 4% atau 0,65 M melarutkan 73,90 % Journal Of Chemical Process Engineering Vol 03 No. 02, November-2018 ISSN = 2655-2957 21 CaCO3, konsentrasi 5% atau 0,81 M mampu melarutkan 76,04% CaCO3 dan konsentrasi 6% atau 0,98 M dapat menghasilkan 78,02% Total CaCO3 terlarut. Grafik menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi pelarut, semakin besar pula total zat yang terlarut. Namun penggunaan pelarut asam pada proses acid wash di Plate Electrolyzer harus tetap mengikuti anjuran vendor. Konsentrasi data hasil analisis ini menunjukkan bahwa HNO3 dapat digunakan sebagai pelarut alternatif menggantikan HCl dengan konsentrasi optimum HNO3 pada saat proses Acid Wash adalah 5 %. Tidak lewat dari batas maksimum yang dianjurkan oleh vendor. Kemampuan HNO3 dalam melarutkan kerak lebih kecil dibanding HCl, namun dengan meningkatkan konsentrasinya, total zat terlarut yang dihasilkan juga dapat setara dengan menggunakan pelarut HCl. Hal ini terlihat pada konsentrasi HNO3 5% dan HCl 3% sama-sama mampu menghasilkan 76% total CaCO3 terlarut atau ± 3,8 gram kerak CaCO3 dari 5 gram total sampel. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian uji efektifitas HNO3 pada proses acid wash dapat disimpulkan bahwa 1. Konsentrasi optimum HNO3 yang dapat digunakan sebagai pelarut alternatif dalam proses Acid Wash adalah 5 % dengan tingkat kemolaran 0,81 M. Konsentrasi ini dianggap sangat efektif dan efisien serta setara dengan konsentrasi HCl 0,83 M , pada konsentrasi tersebut keduanya dapat melarutkan ± 76 % total CaCO3 terlarut atau ± 3,8 gram kerak CaCO3 dari total sampel. 2. HNO3 dapat digunakan sebagai pelarut kerak namun dengan batasan konsentrasi 6 % , serta HCl 3% untuk menjaga performa alat dan keefektifan proses, serta mencegah pengkorosian. Saran Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini kepada peneliti yang akan datang agar melakukan peneltian lebih lanjut untuk 1. Melakukan tinjauan mendalam dalam hal kinetika dan orde reaksi dari kedua jenis pelarut tersebut 2. Melakukan kajian dengan menggunakan jenis pelarut asam lainnya DAFTAR PUSTAKA Alimah, S., Aryanto, S., & Dewita, E. 2014. Pembersihan Kimiawi Fouling Membran Desalinasi RO. Seminar Nasional X 1978-0176. Badr, A., & Yassin, A. 2007. Barium sulfate scale formation in oil reservoir during water. Journal of Applied Sciences , 7 17, 2393-2403. Diponegoro, I., Iwan, Ahmad, H., & Bindar, Y. 2014. Optimasi Parameter Penghilangan Scale Pada Baja Lembaran Panas. Kozic, V., & Lipus, C. 2002. Magnetic Water Treatment for a Less Tenacious Scale. J. Chem , 43 1815-1819, 1. marianne, v., & fiil, f. 2009. The nordic expert group for criteria documentation of health risks from chemicals. Dalam K. Toren Penyunt., Sulphuric, hidrochloric , nitric and phosphoric acids Vol. 7, hal. 2-3. Gothenburg, Swedia University of Gothenburg. Suharso, & Buhani. 2015. Penanggulangan Kerak Edisi 2 ed.. Yogyakarta, Indonesia Graha Ilmu. Swastic, & Suprotim, D. 2015. Effect of Different Acids on the Scale in Pipelines of Linz-DonawitzLD plant Steel Making Process. Advances in Chemical Engineering and Science , 5 2, 192-196. Weijnen, M., Marchee, W., & Van Rosmalen, G. 1983. A quantification of the effectiveness of an inhibitor on the growth process of a scalant. Desalination , 47, 81-92. Zhang, J., Lin, R., & Zhang, P. 2002. Nucleation and growth kinetics in synthesizing nanometer calcite. Journal of Crystal Growth , 245, 309-320. ... Asam nitrat HNO3 merupakan suatu larutan yang bersifat korosif Septiani et al, 2018, pada konsentrasi yang tinggi dapat menghancurkan benda padat termasuk besi. Asam nitrat merupakan asam kuat, sangat larut dalam air dan merupakan oksidator yang kuat. ...Jamhari JamhariBasuki RachmatKegiatan pembuatan Vacuum-assisted closure VAC memiliki peran yang penting dalam membantu mempercepat penyembuhan luka luar, baik yang diakibatkan oleh kecelakaan maupun luka karena diabetes yang selalu mengeluarkan cairan/darah. Pengadaan peralatan import yang sangat mahal, membuat keprihatinan kami untuk membuat alat ini, yang akan sangat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dengan beaya yang terjangkau. Pembuatan alat ini mungkin dapat menjadi solusi dalam mengatasi mahalnya peralatan. Pembuatan dan modifikasi mempertimbangkan aspek efisiensi biaya dan memanfaatkan peralatan yang ada di Laboratorium. Casing dibuat menggunakan campuran rezin dan katalis, rangkaian sederhana dengan komponen elektronik yang mudah didapatkan dipasaran adaptor 12v, Vacum mini, indicator vacuum, gelas/botol ukur dan selang diameter 6mm. Setelah rangkaian elektronik selesai dibuat tinggal menggabungkan saja dan rangkaian elektroniknya dimassukan dalam casing. Hasil penyerapan cairan luka dapat diatur dengan berbagai vareasi tegangan dan waktu. Yazid Bindar“Scaling” adalah proses pembentukan kerak di permukaan baja lembaran. Proses ini dapat berlangsung pada temperatur rendah maupun tinggi. Adanya “scale”atau kerak pada permukaan baja akan menurunkan kualitas dan nilai jualnya. Ada beberapa cara untuk menghilangkan kerak, salah satunya adalah proses “pickling”. “Pickling” adalah proses penghilangan kerak dengan menggunakan asam anorganik. Pada penelitan ini digunakan HCl dan proses berlangsung secara “batch”. Permasalahan yang muncul dalam proses pickling adalah terjadinya “overpickled” dan “underpickled”. “Overpickled” adalah suatu kondisi dimana baja yang dibersihkan terlalu lama kontak dengan cairan asam sehingga baja bereaksi dengan asam. “Underpickled” adalah keadaan dimana baja yang dibersihkan belum sempurna karena masih ada kerak dipermukaannya. “Overpickled” dan “underpickled” merupakan keadaan yang tidak diinginkan, sehingga perlu dilakukan proses optimasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi parameter proses “pickling”. Parameter yang terlibat pada proses ini adalah waktu kontak, konsentrasi asam, dan temperatur. Rentang konsentrasi asam yang digunakan adalah 2,4 M –3,6 M.. Temperatur percobaan adalah 25 oC, 40 oC, dan 70 oC. Berdasarkan model persamaan optimasi yang diturunkan dan dengan menggunakan metode regresi linier dapat diperoleh persamaan matematis yang menyatakan hubungan kosentrasi asam, waktu kontak, dan temperatur. Amer Badr BinmerdhahAbu Azam Mohd YassinThis study presents the results of laboratory experiments carried out to investigate the formation of barium sulfate in sandstone cores from mixing injected sea water and formation water contain high concentration of barium at various temperatures 50 and 80°C and differential pressures 100, 150 and 200 psig. The morphology of scaling crystals as shown by Scanning Electron Microscopy SEM is presented. Results show a large extent of permeability damage caused by barium sulfate deposits on the rock pore surface. The rock permeability decline indicates the influence of the concentration of barium Lin Jiayun ZhangPei-xin ZhangThe size of nanometer particles uniquely depends not only on the nucleus growth rate but also on the nucleation rate. This paper presents the effect of sodium tripolyphosphate on the microimages, synthesis reaction, nucleation and growth during the synthesizing of nanometer calcite using chemical analysis, SEM technique and Rosin–Ramuler probability statistics theory. The result showed that the calcium hydroxide carbonation reaction was inhibited by sodium tripolyphosphate adsorbed on the active growth sites. The SEM images revealed that the synthesizing of nanometer calcite was a multi-stable state process. When [Na5P3O10]=0, the tiny calcite nuclei re-dissolved and the nucleation rate was negative at the final stage. The supersaturation and the nucleation rate increased in proportion to the concentration of sodium tripolyphosphate. The presence of sodium tripolyphosphate accelerated the nucleation of calcite and inhibited the crystal growth. During the crystallization of nanoscale calcite, the fluctuation nucleation, nucleus growth and coarsening growth may take place in series for a fine particle. To a whole carbonation solution, these three steps may occur simultaneously. At the final stage of the nucleation, the calcite crystal growth was controlled by a short-range diffusion and an interface reaction. The Zener–Ham model could not correctly describe the crystal growth. At the coarsening growth stage, the Zener–Ham model could not correctly describe the crystal growth yet. Once the steady nucleus had been shaped in the solution, the crystal growth was determined by a long-range diffusion, and the growth process accorded with Zener–Ham model quite well. Margot van RosmalenSuspension growth experiments were performed using the “constant composition method”, in order to quantify the influence of the growth inhibitor 1-hydroxy-ethylidene-1,1-bisphosphonic acid HEDP on the growth rate of gypsum at various selected growth conditions. During each set of experiments only one growth condition was varied, being either the HEDP concentration, the supersaturation or the pH of the solution, or the initial mass of added crystals. Additionally the adsorption of HEDP onto the crystal surface was measured by XPS to determine the surface coverage needed for essais de croissance cristalline en suspension ont Ă©tĂ© rĂ©alisĂ©s en utilisant la mĂ©thode de la “composition constante” dans le but de quantifier l'influence de l'inhibiteur suivant acide-1-hydroxy-ethylĂšne-1,1-diphosphonique HEDP, sur le taux de croissance cristalline du gypse selon diffĂ©rentes conditions expĂ©rimentales. Au cours de chaque sĂ©rie d'essais un seul paramĂštre variait la concentration d'HEDP, la sursaturation, le pH de la solution ou la masse initiale de cristaux utilisĂ©s. De plus l'adsorption d'HEDP Ă  la surface des cristaux Ă©tait mesurĂ©e par spectroscopie photoĂ©lectronique XPS de façon Ă  dĂ©terminer la densitĂ© surfacique d'HEDP nĂ©cessaire Ă  l' den Einfluss des Wachstumshemmers 1-Hydroxy-ethyliden-1,1-diphosphonsĂ€ure HEDP auf die Wachstumsrate von Gips unter festgelegten Bedingungen zu quantifizieren wurden Wachstumsexperimente in Suspensionen nach der “Methode der konstanten Zusammenstellung” ausgefĂŒhrt. WĂ€hrend jeder Serie von Experimenten wurde ausschliesslich eine der Wachstumsbedingungen verĂ€ndert Die HEDP-Konzentration, die UbersĂ€ttigung, der pH-Wert der Lösung oder die Anfangsmenge der zugefĂŒgten Kristalle. Zur Ermittlung des fĂŒr die Wachstumshemmung benötigten OberflĂ€chenbedeckungsgrades wurde die Adsorbtion von HEDP an der KristaloberflĂ€che mit Hilfe von XPS nordic expert group for criteria documentation of health risks from chemicals. Dalam K. Toren PenyuntV KozicC LipusKozic, V., & Lipus, C. 2002. Magnetic Water Treatment for a Less Tenacious Scale. J. Chem, 43 1815-1819, 1. marianne, v., & fiil, f. 2009. The nordic expert group for criteria documentation of health risks from chemicals. Dalam K. Toren Penyunt., Sulphuric, hidrochloric, nitric and phosphoric acids Vol. 7, hal. 2-3. Gothenburg, Swedia University of & Buhani. 2015. Penanggulangan Kerak Edisi 2 ed.. Yogyakarta, Indonesia Graha Ilmu.